Nyoblos

Apa pentingnya nyoblos?

Nyoblos itu sangat penting, karena dengan nyoblos kita bisa menentukan siapa yang akan duduk sebagai wakil rakyat, orang-orang yang akan membahas kebijakan negara kita ke depan. Orang-orang yang bisa menyelamatkan aset negara, bisa bikin indonesia pinternya merata, bisa ngatasin masalah kemiskinan, dan banyak hal luar biasa lainnya. Orang-orang yang dapat mewujudkan kebijakan-kebijakan publik yang berkaitan secara langsung dengan kehidupan kita sebagai warga negara.

Dengan nyoblos, maka kita lebih bertanggung jawab terhadap wakil-wakil rakyat tersebut, kita akan ngawasin mereka dengan lebih baik. Kita tidak akan semudah itu mencela mereka kalau mereka salah, tapi kita siap memberikan masukan dan kritik membangun untuk mereka. Tentunya kita akan lebih bertanggung jawab terhadap pilihan kita bukan?.

Apatis

Dari wikipedia definisi apatis adalah sbb :

Apati adalah kurangnya emosimotivasi, atau entusiasme. Apati adalah istilah psikologikal untuk keadaan cuek atau acuh tak acuh; di mana seseorang tidak tanggap atau “cuek” terhadap aspek emosional, sosial, atau kehidupan fisik. Apati klinikal dianggap tingkatan atas, sedangkan tingkat menengah dapat dianggap sebagai depresi, dan pada tingkatan puncak dapat didiagnosa sebagai disorder disassociative.

Dari hasil bercakap-cakap dengan teman seangkatan, saya menemui bahwa sebagian (besar)  dari teman-teman yang saya tsb akan tidak mencoblos pada hari esok. Teman-teman saya adalah anak-anak angkatan 87-90an. Sebagian dari mereka adalah orang yang merantau ke jakarta. Alasan pertama bagi mereka yang akan tidak nyoblos adalah bahwa mereka tidak terdaftar sebagai pemilih di jakarta, mereka terdaftar di daerah tempat tinggal masing-masing.  Kami adalah pendatang baru di ibukota. Bagi beberapa dari kami, pulang satu hari untuk mencoblos akan menjadi perjalanan yang cukup melelahkan, dengan waktu tempuh 5 s.d 12 jam perjalanan (darat).

Kenapa tidak diurus? bukannya bisa diurus supaya bisa nyoblos di jakarta?
Jawaban dari pertanyaan ini umumnya adalah males.

Syarat untuk melapor pindah memilih hanyalah membawa ktp, kk, atau paspor, syarat yang mudah, karena kita semua pasti punya KTP (at least).  Dengan membawa kartu tsb kita datang ke kelurahan dimana kita terdaftar DPT untuk bertemu dengan PPS atau Panitia Pemungutan Suara. Dari PPS inilah kita akan mendapatkan formulir (A-5) keterangan pindah memilih. Apabila kroscek informasi sudah ok, maka nama kita akan dicoret/dikeluarkan dari tempat awal kita memilih.

Langkah berikutnya adalah mendatangi PPS dimana kita akan mencoblos dan melapor bahwa kita akan mencoblos, jika formulir A-5 dari TPS (kelurahan asal) valid maka kita akan diaprove oleh PPS tempat kita akan nyobolos (kelurahan tujuan) dan dimasukkan kedalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) dan berhak memilih pada tanggal pemilihan.

Proses ini adalah tentang nyempetin pulang, datang ke kelurahan asal, dan balik ke jakarta, datang ke kelurahan tujuan.

Kok ga dilakukan?
Nah, jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi karena menyoblos tidaklah sepenting itu, karena untuk hal yang kita anggap penting sih, biasanya pengorbanan dari kecil hingga besar bisa dan siap untuk dilakukan, contohnya untuk njemput calon istri, ngejalanin ldr, dll, prikitiw. nyempetin hal-hal di atas tidaklah seberat itu klo nyoblos itu penting.

Lah kan ini menyangkut masa depan negaramu? emang ga penting?
…..

A: “urang nggak yakin ini ngaruh ke kehidupan urang”..
B: “aku nggak suka sama sistem pemilihannya broh, sistem pemilihan seperti ini melahirkan kekuasaan yang diperebutkan, ga ideal”
C: “to much effort deh klo harus ngurus ini itu dulu”
D: “Apalah kita ini .. kita cuma bagian yang sangat kecil.. orang yang dipilih belum tentu jelas juga kontribusinya buat kita.. aku lebih peduli sama bintang K-Pop :D, theyre handsome and entertaining”
E: “aku ga percoyo wae karo wong-wonge..paling yo podo wae lek kepilih, korupsi”

Kalau kamu bagaimana? Nyoblos kan besok? Udah tau mau nyoblos siapa?

F: “iya kayaknya nyoblos.. hmmm.. siapa ya, ya lihat saja besok, siapa tau ada ilham”
G: “iya datang, mau saya coblosin semua surat suaranya biar ga dimanfaatkan oknum”
H: “iya nyoblos.. aku nyoblos yang paling ganteng aja deh, wong ga tau orangnya siapa”
I:”nyoblos, tapi aku belom tau mau nyoblos siapa.. kasih refernsi data doong, ga sempet nyari nih wkwk”
J:” Aku kalau nyoblos ikut bapak ibuk aja deh, kan bapak ibuk yang tau”

Hasil dari pertanyaan singkat ke beberapa teman menghasilkan jawaban yang kurang lebih seperti di atas.

Faktor?

Saya bukanlah pengamat politik, bukan pula psikolog, tapi tingkat kemalesan untuk mencari caleg dan keengganan untuk menggunakan hak suara mungkin bisa kita jadikan kesimpulan bahwa tingkat apatis angkatan saya terhadap masalah pilih memilih wakil rakyat ini cukup tinggi.

Beberapa faktornya mungkin sbb:

1. Sumber informasi
Berlimpahnya informasi bagi kami justru menjadi masalah tersendiri sekarang. Tidak mudah untuk membedakan informasi yang valid dan tidak, bisa dijadikan referensi untuk memilih partai/kandidat. Tempo hari kemarin sempat beredar grafik jumlah korupsi partai yang ternyata tidak valid. Masing-masing orang juga memahami grafik tsb dengan cara masing-masing. Sumber informasi sekarang ini bercampur baur antara fakta dan opini. Beberapa media menjadi sarana kampanye partai/ownernya sehingga kadang beritanya tidak berimbang. Media juga berlomba untuk menyajikan informasi secepat mungkin, sehingga kadang kita temui dalam 1 media terdapat berita yang tidak valid dan tidak lengkap, kadang bahkan tanpa sengaja media tersebut memuat berita hoax. Pernah juga suatu ketika saya temui media yang membahas 1 topik yang sama, namun keduanya menceritakan sudut pandang yang sangat bertolak belakang.

2. Prosedur Pemilihan Umum
Bayangkan kalau registrasi pemilu bisa dilakukan menggunakan E-KTP. orang datang, menscan E-KTPnya lalu orang tsb teregister untuk melakukan 1 kali pemilihan saja pada masa pemilihan tsb. Setelah hak pilihnya digunakan, maka E-KTP tsb tidak dapat digunakan untuk memilih kembali dan akan langsung di tolak oleh sistem. E-KTP ini bisa digunakan dimana saja, sehingga tidak masalah bagi orang yang mobile ketika dia harus menggunakan hak suaranya. Fraud dicegah dengan sistem aplikasi yang terverifikasi, dan teruji, dan tetap diawasi penggunaannya secara manual #ngarepmodeon. (setelah saya baca ternyata sistem pemilu elektronik juga memiliki banyak masalah http://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_voting , wajar jika penerapannya tidak mudah dilakukan dan banyak concernnya). Faktanya bagi sebagian besar perantau sistem pindah daerah pada pemilu yang sekarang ini tidak memberikan kemudahan yang di inginkan, mungkin proses ini ke depan bisa dipermudah :).

3. Takut di kecewakan
Banyaknya pemberitaan mengenai ulah buruk para legislatif di media memang sangat memprihatinkan. Cara berkomunikasi sebagian dari mereka yang tidak cerdas, tidak santun, dan tidak mawas diri menjadi tontonan pahit yang langsung membuat orang normal bertanya-tanya. Yang buruk jumlahnya mungkin memang sedikit, namun langsung menutupi semua kebaikan yang mungkin dilakukan anggota dewan yang lain. Debat ide yang menghadirkan para anggota dewan ini kadang menjadi debat kusir, yang walaupun asyik untuk ditonton karena rame, menyisakan topik debat yang tidak mengerucut menjadi sebuah solusi atau jawaban yang bisa diterima oleh sebagian besar pihak. Entah ini karena ulah media yang tidak bertanggung jawab atau ketidakmampuan para wakil rakyat ini dalam menyampaikan pikirannya dengan baik.

Hal-hal seperti ini yang membuat sebagian teman mengungkapkan rasa pesimisnya thd para legislatif. sebagian dari mereka takut dikecewakan oleh pilihan mereka sendiri jika harus memilih. kadang kita lihat sebagian dari caleg berasal dari pekerjaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan politik, kadang mereka merasa orangnya sudah tepat tapi berada di partai yang tidak tepat. Akhirnya akumulasi kekecewaan terhadap pelaku politik memuat orang menutup mata terhadap dunia politik.

Mungkin inilah yang dinamakan buta politik.  Karena takut dan kecewa, kita memutuskan untuk menarik mundur diri kita dari politik, menjauh dari politik, hingga akhirnya semakin tidak tau dan tidak mau tau ttg politik.

Ada juga yang bilang bahwa duduk di kursi panas sana, penuh dengan godaan dan tekanan, jangankan orang yang bermental biasa saja, orang yang bermental kuatpun bisa berubah ketika mereka memegang kekuasaan, beberapa berubah karena diri mereka sendiri, beberapa berubah karena lingkungan di sekitar kekuasaan tersebut. #surem

4. Terbaik diantara yang tidak
Penangkapan dan expose wakil rakyat yang melakukan pelanggaran hukum terjadi beberapa kali. Ada yang dilakukan oleh anggota partai dengan slogan anti korupsi, ada yang dilakukan oleh anggota partai pemilik kader-kader muda militan 🙂 dan beberapa dari partai-partai lainnya *.  Di bawah ini statistik yang diambil dari web kpk dengan link http://acch.kpk.go.id/statistik-penanganan-tindak-pidana-korupsi-berdasarkan-tingkat-jabatandata korupsi dpr dprd

jumlah anggota dpr-dprd pelaku korupsi yang ditangai oleh KPK. beberapa wakil rakyat ini adalah wakil rakyat yang tidak jelas mewakili siapa.  dalam pemberitaan lain dari http://www.youtube.com/watch?v=LIa7GxTTSXU berisi dugaan pelanggaran korupsi yang direlease oleh pusat kajian anti korupsi ugm. dari laporan ini hampir semua partai peserta pemilu 2014 memiliki anggota  yang terduga korupsi. Adanya data ini membuat pilihan terhadap semua partai menjadi memilih yang paling baik diantara yang kurang baik, walaupun beberapa partai (partai baru) tidak termasuk dalam laporan tsb namun minimnya track record partai yang tidak termasuk dalam juga bisa menimbulkan pertanyaan mengenai performa mereka jika terpilih kelak.

Melihat Secara Positif dan Memilih Dengan Bijak

Demikian, beberapa hal yang bisa saya ceritakan mengenai nyoblos tahun ini. Dari sekian hal yang saya sampaikan diatas, perlu dicatat bahwa ada beberapa teman yang melihat pemilu ini secara positif. salah satu senior saya di itb ryvo octaviano memberikan contoh dengan membuat spreadsheet berisi kolom-kolom kriteria yang secara simple dapat digunakan untuk memperkecil pilihan caleg dari banyak caleg yg harus dipilih.  Kriteria-kriteria caleg dapat dirumuskan oleh masing-masing orang. contoh simple dari kriteria tsb misalnya

1. tingkat pendidikan minimal S1
2. usia minimal 30 max 55 (usia produktif)
3. bukan CEO, bukan komisaris perusahaan. (mencegah konflik kepentingan, mencegah masalah prioritas kerja, mencegah dualisme kepemimpinan)
4. bebas finansial. kuat secara finansial/tidak menggantungkan hidup sebagai wakil rakyat (sehingga siap mundur jika salah dan tidak perlu korupsi karena sudah kuat secara finansial)

kriteria-kriteria ini lalu diaplikasikan ke semua caleg, caleg yang berhasil lolos dari kriteria inilah yang nantinya dipilih. dengan menggunakan kriteria/standar yang tinggi, (pada contoh yang dibuat senior saya tsb, calon legislatif haruslah S2 diluar negri) kita dapat mengerucutkan caleg hingga hanya tersisa beberapa saja dan mempermudah bagi kita untuk memilih caleg yang visi misinya sesuai dengan kita.

Teman saya yang lain mempropose yang lebih keren lagi. Kata dia harusnya masing-masing caleg melalui serangkaian test standar selayaknya orang mendaftar kerja. Mulai dari psikotes, tpa, fgd, dll. hingga dari hasil test yang terukur nilainya tersebut didapatkan kandidat paling baik dengan performa intelektual dan mental yang mumpuni.

Saya sendiri ingin menambahkan persyaratan agar masyarakat bisa melihat bagaimana caleg tersebut berkomunikasi dalam bahasa tulis, bahasa lisan, dan adu gagasan :D. Mereka menjawab isu/pertanyaan dengan tema yang sama, yang dilakukan secara bersamaan di tempat terpisah.

KPK sendiri sebenarnya menawarkan metode yang menarik dengan tagline mereka untuk pemilu 2014, yaitu “Pilihlah Yang Jujur”. Memilih kandidat yang jujur sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan alat lie detector. dari  wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Polygraph, polygraph/lie detector merupakan alat/metode yang mengukur beberapa indikator psikologis seperti  tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dan konduktifitas kulit pada saat subject atau pengguna diberikan beberapa pertanyaan yang dibutuhkan :D.  (setelah saya baca sayangnya tidak ada hasil research yang memuaskan tentang penggunaan metode lie detector karena dari metode2 yang sudah ada masing-masing memiliki tingkat error yang tinggi, hanya Jepang yang memberlakukan hasil poligraph sebagai hasil yang diakui secara valid untuk dapat digunakan di dalam persidangan).

Demikian,

banyak harapan agar wakil rakyat benar-benar menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat. Mungkin harus ada hari blusukan nasional dimana wakil rakyat menyamar dan menyatu tanpa dikenali rakyatnya, untuk mengenal rakyat dan masalah mereka, lalu kembali ke ruang kerja dengan bekal suara rakyat yang sebenarnya. kalau rakyatnya sudah gembira biarkanlah mereka ikut tersenyum senang dan kalaulah rakyatnya penuh masalah biarkanlah mereka ikut menangis dan kemudia nbangkit menyerukan solusi bagi masalah rakyatnya tersebut.

banyak harapan agar masyarakat kembali siap memilih, namun kali ini memilih yang terbaik diantara yang baik. Orang-orang bijaksana, mawas diri, ahli diplomasi, ahli musyawarah dan contoh teladan bagi rakyat-rakyat Indonesia

ket :

*Saya sengaja mengambil 2 partai yang seharusnya paling tidak mungkin melakukan korupsi, untuk menunjukkan betapa kontrasnya keadaan dari wakil partai ini dengan misi yang mereka emban.

**Presentasi Golput pada pemilu kali ini mencapai angka diatas 30% dan menjadi pemenang pemilu.

***memahami bagaimana cara pandang orang terhadap politik, dapat dilakukan dengan cepat dengan membaca quotes. Link ini berisi quotes tentang politik yang sangat menarik 🙂 http://www.goodreads.com/quotes/tag/politics

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s