Berkendara itu..

Membaca kompasiana pagi link dari teman, kali ini kelalaian anak 16 tahun mengakibatkan meninggalnya salah satu mahasiswa tingkat pertama ftsl itb. untuk membaca berita tsb silahkan menuju link ini
http://metro.kompasiana.com/2013/10/31/mahasiswa-itb-menjadi-korban-kecelakaan-maut-penabrak-masih-di-bawah-umur-604087.html

Pengalaman Pribadi Saya
Saya jadi ingat pengalaman pertama saya, mencelakakan orang lain saat berkendara. Seingat saya saat itu saya duduk di bangku kelas 3 SMA N Purworejo. Kejadiannya terjadi saat kami merencanakan untuk kumpul-kumpul, saya dan teman-teman saya yang sudah ditempat kumpul, harus menjemput beberapa teman yang masih ada di SMA karena tidak ada kendaraan. Jalanan purworejo adalah jalan yang lebar yang lengang, kondisi ini memungkinkan pengendara kendaraan untuk memacu kendaraannya dengan kencang. Itupun yang saya dan teman-teman saya lakukan siang/sore itu, ketika salah satu dari kami mulai mempercepat laju motornya, semuapun menjadi terpacu untuk melakukan hal yang sama. Mulai dari tempat kumpul ke SMA sayapun mencoba membalap/tidak kalah dari teman-teman saya. Sampai di depan rsu purworejo, kecepatan motor kami ditengah jalan 2 arah yang lumayan lengang tersebut adalah pada rentang 60 s.d 80 km/jam. Kecepatan tersebut kami jaga untuk tidak saling ketinggalan dari teman-teman yang lain. Kami mengikuti dan kadang saling mengiringi, melewati kendaraan-kendaraan lain dan angkot berwarna kuning merah khas purworejo. Tiba-tiba saya saat di depan RSUD Purworejo, saya mendapati sosok seorang nenek yang sedang siap-siap menyebrang. Saya sedikit lupa dari mana saya mendapatkan view tersebut, mungkin sebelumnya saya berada dibelakang kendaraan teman saya/atau kendaraan lain yang mengarahkan laju mereka sedikit ke kiri, menjauh dari garis putus-putus tengah jalan. Atau saya yang ingin mendahului kendaraan lain dan saya bergerak sedikit ke kanan tepat di tengah garis tersebut. Nenek tersebut, tepat berada di jalur motor saya. Nenek yang melihat saya muncul secara tiba-tiba tersebut nampak kaget dan ragu saat akan melangkah, maju atau mundur, dalam detik-detik tersebut otak saya melakukan live capture secara lambat. saya masih ingat detik-detik saat saya berusaha mengarahkan stang saya ke kiri untuk menghindari nenek tersebut, dibarengi dengan menekan rem tangan (rem ban depan) dan belakang dengan keras. Saya menengok kebelakang.. Saat itu saya yakin, saya berhasil menghindari nenek tersebut dan tidak mengenainya, namun saya menangkap pemandangan sesaat kemudian nenek tersebut terjatuh, ke depan.. Saat saya mengarahkan stang ke kiri dan rem depan saya tekan keras, yang terjadi adalah motor saja terjatuh ke arah kiri dan terseret beberapa meter ke depan. sayapun mengiringi motor tersebut, terjatuh dan terlepas dari motor, terguling di sisi kiri motor, motor sedikit terseret didepan saya. Saya langsung bangkit menuju ke arah si nenek, Alhamdulillah, batin saya, nenek tersebut tidak apa-apa. Dugaan saya, beliau jatuh karena kaget atau salah melangkah. Bukan karena kontak dengan motor saya, karena dari sudut pandang saya, saya sudah berhasil melewati nenek, dan bagi saya saat itu, nenek tersebut sangat lebih lambat jatuhnya dari saat saya melewati beliau.

Kecelakaan tidak sederhana
Yang saya dapati sesaat kemudian adalah saya berada pada kondisi yang baik-baik saja, beruntung saya memakai helm standar yang saya kancingkan dengan proper. Keadaan nenek tsb adalah mengalami luka, di bagian kakinya, jempolnya sedikit perdarah dan mulai membengkak. Saya dan teman-teman saya dengan sigap membantu nenek tersebut ke UGD untuk diperiksa, teman saya yang lain membereskan motor saya yang tergeletak di tengah jalan. Saat itu tiba-tiba ada orang yang entah dari mana, tiba-tiba menelepon polisi. Sebelumnya pada orang tersebut saya mengutarakan bahwa saya ingin menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan melihat kondisi nenek tersebut yang saya tau lukanya adalah luka ringan pada jempol kakinya. Namun terlambat, karena polisi tiba-tiba datang membawa kendaraan saya dengan mobil polisinya, dan mungkin akan mempermasalahkan kejadian yang baru saja terjadi. Di awal, saya menyimpulkan semua akan berjalan dengan mudah, saya akan menanggung biaya perawatan kaki nenek, minta maaf dengan proper, dan nenek tersebut akan sehat kembali. Namun dengan polisi, ini semacam menjadi kasus, tidak bisa diselesaikan sesederhana itu nampaknya, entah kenapa. Saat itu saya sangat tidak memahami kenapa harus ada polisi, padahal saya siap menanggung perawatan nenek tersebut sampai selesai (setelah saya melihat kondisi nenek tersebut tentu saja).

Saat itu Bapak saya yang kelabakan, dia dibantu temannya yang paham kondisi seperti ini, beberapa kali datang ke polisi untuk menyelesaikan masalah saya. Tak hanya ke polisi, merekapun mengontak sanak dan keluarga dari nenek tersebut untuk menyelesaikan persoalan ini secara damai. Cerita ayah saya, ternyata anak dari nenek tersebut adalah anggota brimob, pada awal di kontak anak dari nenek menyatakan kemarahannya dan keberatannya. Dia harus pulang dan melihat kondisi nenek tsb terlebih dahulu, dan bersikeras bahwa masalah yang saya timbulkan ini harus diteruskan. Bapak dan teman bapak saya ini juga terus memantau keadaan nenek dan memohon maaf kepada nenek tersebut untuk yang saya lakukan. Disertai juga permohonan agar nenek tersebut bisa bicara dengan anaknya, memberikan pengertian bahwa masalah ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Alhamdulillah tak lama berselang Bapak saya mengabarkan bahwa saya diberi maaf oleh nenek tsb dan nenek tsb telah dapat meyakinkan anaknya bahwa, beliau dalam kondisi yang baik.

Untuk menunjukkan keseriusan saya dalam meminta maaf, sayapun dibawa oleh bapak ke tempat nenek tersebut untuk melihat keadaannya. Ternyata nenek tersebut tinggal sendiri di rumahnya. Saya jadi paham alasan anak nenek tsb untuk sangat mengkhawatirkan keadaan beliau dan betapa tidak relanya ketika ibunya terluka/cidera dikarenakan oleh kelalaian anak kecil seperti saya. Sayapun dengan tulus meminta maaf kepada nenek tersebut secara langsung, dan nenek tersebut dengan ikhlas memaafkan saya dari kesalahan yang saya buat. Saat itu jempol nenek masih bengkak dan membuatnya masih susah berjalan, namun selain itu beliau dalam keadaan sehat wal afiat. Terima kasih Nek

Dari cerita Bapak juga saya jadi sadar betapa susahnya menyelesaikan masalah yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain, dalam kasus ini adlah kecelakaan sepeda motor (*kategori sedang). Karena semua kerugian bagi orang lain itu ada pasal hukumnya dan bisa dimasalahkan. Beliau secara langsung memarahi saya atas apa yang sudah saya lakukan yang jatuhnya adalah merugikan orang-orang terdekat saya juga. Sayapun meminta maaf dan sangat berterimakasih pada bapak saya saat itu, dan berjanji untuk lebih hati-hati dalam berkendara.

Berkaca
Saat berkaca pada diri sendiri, saya menemukan bahwa saya, pada usia tersebut memang sangat tidak stabil dalam berkendara. Di selip orang sedikit jadi ikut kenceng, lihat jalan lengang sedikit dan menarik gas hingga pol, saat di tikungan, sok sokan miring-miring kayak rossi, saat lampu merah ke lampu ijo langsung ngegas kencang dan mbleyer, beberapa rambu juga mungkin tidak saya hiraukan saat itu, ketentuan untuk melambatkan laju kendaraan di tempat-tempat umum (pelayanan masyarakat) juga saya lupakan saat ketemu teman-teman yang naik motornya kencang. Bagi saya yang sekarang, ini merupakan refleksi bahwa pada usia tersebut saya belum cukup tanggung jawab terhadap diri saya sendiri dan pada lingkungan sekitar. Memiliki SIM juga bukan indikator bahwa kita cukup dewasa dalam berkendara. Bahwa berkendara adalah tentang keselamatan orang lain juga.

Setelah mengingat kebelakang, sayapun mencoba membaca diskusi hukum tentang kecelakaan. Saya jadi tahu bahwa yang saya lakukan saat SMA tersebut bisa menempatkan saya sebagai tersangka di mata hukum dan mendapatkan hukuman yang tidak diinginkan oleh semua orang. Ada kategori kecelakaan kecil, sedang, dan berat. Kecil untuk kerusakan barang, Sedang untuk kerugian/luka/cidera pada orang, dan berat untuk kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa. Bahwa ternyata untuk kasus kecelakaan, kesepakatan damai tidak lantas menghapuskan kententuan hukum terhadap tersangka.

file mengenai undang-undang ttg lalu lintas dan angkutan jalan dapat di download di sini
http://www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile/lt4a604fffd43d3/parent/lt4a604fcfd406d

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s