Sadar Kamera

Sadar kamera, pasti temen-temen paham sama istilah ini, karena pasti ada foto yang memiliki kondisi seperti di bawah :
sekian banyak orang yang difoto pada suatu event, satu orang (entah mengapa) ngeliat kamera sambil senyum atau membuat pose, sementara yang lain masih berkonsentrasi ke kegiatan yang didokumentasikan. kurang lebih kejadiannya seperti ini :

sadar kamera

nah yang paling parah klo itu foto emang sengaja candid, orang yang ngambil foto bahkan sampai ngumpet-ngumpet, tapi masih ada aja orang yang bikin pose “peace” posisi belakang jauh banget. Hal tersebut adalah hal yang biasa dilakukan temen smp saya ipul.. dari foto-foto kegiatan smp yang terdokumentasikan, setiap foto yang ada dianya akan terlihat ganjil, haha. well karena dia bisa dipastikan akan bikin pose atau senyum-senyum sok ganteng sendiri di antara orang-orang foto yang natural, terlepas dari dekat jauhnya, posisi, tema, dan urgensi (halah) foto yang diambil. btw, karena terinspirasi si ipul akhir-akhir ini saya mencontoh tingkahnya dalam beberapa kali pengambilan foto, salah satunya adalah foto diatas yang diambil lagi-lagi pas wisnite HME #yeah.

Jadi sebenarnya salah ngga sih sadar kamera?, hmm well, Mungkin, orang yang sadar kamera merupakan orang yang sadar dan senantiasa memperhatikan keadaan sekitarnya. Dia juga merupakan orang yang rada geeran karena sok-sokan memperhatikan sekitar untuk mencari tau apakah ada orang yang memperhatikan dia. Tapi ngga papa, kita ambil positifnya. orang yang sadar kamera bisa disimpulkan sebagai orang yang aware karena dia memperhatikan sekitarnya.

Nah kenapa sikap “memperhatikan sekitar” ini bisa jadi nilai positif? karena sikap semacam ini penting untuk dimiliki oleh public-figur ataupun para pemimpin. sikap memperhatikan sekitar ini bisa menimbulkan manfaat ke dalem dan ke luar.
1. ke dalem
sebagai public-figur/pemimpin sudut pandang orang sekitar terhadapnya akan ngaruh terhadap bagaimana dia meng-influence orang-orang sekitar tersebut. artis yang ganteng dan cool bisa dicintai oleh rakyat perempuannya, tapi begitu dia ngga ganteng dan cool lagi (misalnya dia tiba-tiba jadi suka ngupil sembarangan) mungkin rakyat2 ce tidak akan lagi mendukungnya. pemimpin yang ketahuan selingkuh misalnya tidak akan lagi didukung oleh para ibu-ibu yang menganggap/berprinsip kesetiaan itu penting. karena itulah public figur/pemimpin perlu menjaga perilakunya. Karena perilaku mereka dinilai oleh orang banyak dan mungkin di jadikan referensi. sehingga manfaat ke dalemnya adalah menjaga perilaku dengan membentuk diri menjadi pribadi yang baik.

2. ke luar
kepedulian seharusnya lahir ketika kita memperhatikan sekitar kita. orang yang sudah mulai peduli ke lingkungan sekitar menurut saya adalah orang yang dewasa, orang yang sudah pantas terjun dan hidup mandiri di masyarakat. sayangnya pola kehidupan kota besar yang serba sibuk dan tingkat mobilitas yang tinggi mengakibatkan sosialisasi untuk bisa sampai tahap ke peduli terhadap masyarakat/lingkungan ini menjadi hal yang susah diwujudkan. orang-orang samping rumah yang tidak saling mengenal, tidak adanya bertegur sapa ke warga ketika bersisipan atau melewati jalan yang ada orangnya, juga sikap acuh terhadap situasi yang terjadi di masyarakat, kejadian semacam ini makin kita temui. menarik rasanya jika kehidupan multikultur dan sibuk ini tapi masih ada kegiatan masyarakat seperti gotong royong, bersih selokan/kali, jalan sehat atau sepeda santai, dimana masyarakat dapat berbaur dan timbul kepedulian satu sama lain. seorang public-figure/pemimpin bs disebut pemimpin yang peka apabila dia memperhatikan sekitarnya dan peduli terhadap apa yang terjadi.

Demikian, jadi dengan ini ada dua sikap yang dimiliki oleh orang yang memperhatikan sekitar yaitu sikap teladan dan sikap peduli. sikap yang saya sebutkan disini paling keren klo menghasilkan sikap perbuatan teladan yang apa adanya, tidak dibuat-buat, sikap teladan yang alami, bukan pencitraan. Awareness yang melahirkan kepedulian dan kemudian melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat, bukan kepedulian yang hanya diungkapkan/dicitrakan. menjadi figur bukan berarti ngga boleh bersikap apa adanya, tapi sikap apa adanya sang figur haruslah memang sikap-sikap perilaku teladan. menjadi figur yang diperhatikan oleh orang lain juga membawa konsekuensi bahwa figur tersebut harus lebih memperhatikan orang lain. Nah Loh. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s