Sebuah Catatan Ceramah Tarwih

Orang itu berdiri dimimbar, dari wajahnya tampak dia masih muda, mungkin masih mahasiswa, atau berada sama dengan saya. Masing-masing orang punya caranya sendiri pada saat bicara, orang itu, dengan gaya bicaranya, aku lebih suka mendengarnya. kurasa dengan mengatupkan mata, aku bisa mendengar apa yang ia sampaikan dengan lebih baik.

mataku sudah terkatup saat dia memulai khutbah selepas isya, isinya adalah mengenai pesan untuk mengingat mati, aku merinding. pesan seperti ini, dengan penekanan seperti ini, sangat jarang orang yang menyampaikannya. aku yang manusia biasa sekali inipun terdiam mendengarnya. antara malu dan takut. antara berusaha mencari-cari alasan yang dapat melegaan dan menerima bahwa aku salah. pesan ini segar. namun menampar saya, mungkin juga menampar beberapa teman atau bapak-bapak yang duduk santai di sana saat itu.

kapan, di mana, dan bagaimana?
kapan, di mana, bagaimana?
kapan, di mana, bagaimana?

Seperti apakah keadaan kita pada saat itu?
Bagaimana perasaan mereka yang ditinggalkan?
Adakah yang rela mendoakan kita?
Adakah yang sedih ketika kita pergi?
Adakah butir-butir kebaikan yang kita tinggalkan? ataukah justru keburukan-keburukan?
Adakah yang akan mengingat kita kelak? atau justru melupakan dengan senang?

Orang itu turun mimbar, cukup baginya pesan pengingat tentang kematiannya kepada orang lain dan juga kepada dirinya sendiri. Cukup baginya menyampaikan pesan itu dengan tegas dan sungguh, sungguh, sehingga pesannya merasuk ke dalam hati. Cukup baginya memberi contoh tentang bagaimana sang kakek neneknya sendiri yang mendapat perlakuan  berbeda takkala mereka meninggal. Cukup baginya menyampaikan kembali berita-berita kematian orang-orang.. yang terjadi di atas apa yang ia cintai, yang baik di atas yang baik, yang buruk di atas yang buruk. Cukup baginya memberi gambaran kematian di dunia, tak perlu gambaran alam akhiratnya.

Orang itu menyampaikan salam, untuk kemudian memimpin shalat tarawih, shalat yang walau sebentar, tapi dilakukan oleh orang-orang dengan renungan, dengan mengingat kematian.

 

Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.
[HR. at-Tirmidzi]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s