Dari dokter House sampai Asymptote

Satu hal yang hari ini saya sadari adalah bahwa menonton film serial benar-benar menyita waktu, apalagi ketika film serial yang ditonton merupakan film serial yang memiliki banyak season dan merupakan film serial yang menarik atau bikin penasaran.

Dr. House, film serial yang telah sampai 8 season ini, (klo ga salah mulai dari 2004), merupakan serial yang cukup menarik, well tentu dengan tingkan ke-menarikan yang berbeda bagi saya dibandingkan dengan anak-anak yang seneng biologi atau pelajaran kedokteran. Banyak istilah-istilah kedokteran di serial tersebut yang tidak saya pahami, yang saya paling apal sampai sekarang hanyalah istilah ativan, (klo tidak salah ativan ini merupakan obat penenang yang disuntikkan ketika pasien mengalami shock atau kejang). yah begitulah, dari sekian episode yang saya tonton hanya beberapa hal mengenai penyakit dan obat yang bener2 saya tangkep. namun demikian, pengetahuan mengenai diagnosis dalam dunia kedokteran, etika dokter, dan situasi-situasi lain yang dialami dokter maupun pasien digambarkan dengan cerita yang menarik dan penuh pesan di film ini.

dimulai penyakit yang menyerang pasien dengan cara yang tidak diduga (umumnya kejang, sesak nafas), pasien kemudian dibawa ke princeton plainsboro, (rumah sakit (teaching hospital) dimana dr house bekerja). House, dokter brilian yang memiliki penyakit otot pada kaki kanannya, merupakan orang yang menyebalkan dan ngasal, dan klo ngomong nusuk banget. orang lain memanggilnya “jerk”. namun demikian orang-orang yang menyebalkan dan ngasal kadang merupakan orang yang paling jago dibidangnya, karena jago inilah maka dia jadi bisa ngasal, (beberapa teman saya yang sangat jago dibidangnya juga memiliki indikasi sikap-sikap seperti ini hahaha). penyakit yang dimiliki house membuat dia memiliki ketergantungan terhadap vicodin, sejenis narkotik yang bisa menghilangkan rasa sakit yang dia alami setiap saat pada kakinya. selain vicodin, rasa sakitnya hanya bisa dihilangkan oleh hobynya menyembuhkan pasien dengan berfikir untuk menyelesaikan misteri / menyembuhkan penyakit yang dimiliki pasien.

Bagi house pasien-pasien yang datang kerumah sakit tersebut adalah sebuah puzzle yang harus diselesaikan. pada setiap episode, penyelesaian puzzle-puzzle misteri tersebut oleh house dan tim-nya diiringi dengan cerita moral mengenai kehidupan dari masing-masing tokoh yang terlibat.

Dalam episode tertentu diceritakan mengenai istilah “everybody lies” yang sering disebut dan dipakai house. adalah bahwa semua orang punya tendensi untuk berbohong, di beberapa episode diceritakan bagaimana berbohong itu bisa sedemikian buruk bagi pasien, dalam hal penyembuhan kesehatannya, maupun buruk bagi hubungan pasien dengan orang-orang terdekatanya. sedangkan dibagian lain diceritakan bagaimana house beberapa kali berbohong, untuk menyelamatkan pasiennya, maupun menyelamatkan hubungan pasien dengan orang-orang terdekatnya. everybody lies..

Nah yang saya tulis diatas cuma sedikit sekali cerita dari 8 season (arrgh baru 3 season yang saya tonton), sampai pada hari kemarin saya berencana menyelesaikan menonton terus serial ini. namun, dengan durasi 45 menitan untuk tiap episodenya, akan menghabiskan mungkin sebulan atau dua bulan penuh didepan laptop apabila saya ingin marathon. alhasil jumat kemarin saya disadarkan, ternyata hidup tidak bisa saya habiskan hanya dengan menonton serial setiap saat. saya juga butuh makan, minum, dan tentu saja, kuliah (kerja bagi yang kerja), belajar, nugas, olah raga, ngegame, berhubungan sosial, dan pastinya ibadah (selain hal2 spesifik lainnya).

tersadarkan oleh wangsit untuk berhenti nonton (terus-terusan haha) akhirnya saya memutuskan untuk membuka buku hijau tpb, kalulus.. pak dosen sisken membuat saya harus membaca-baca lagi mengenai asymptote. konon materi asymptote ini ada di sma, tapi nampaknya saya ngga ngeh sama sekali dulu, yang masih saya ingat dari jaman sma tentu saja adalah romantikanya (wkwkw). asymptote adalah sebuah garis (guideline) yang dimiliki oleh kurva tertentu sedemikian shingga, jarak antara kurva dan garis tersebut mendekati nol seiring garis dan kurva tersebut menuju titik tak hingga. ada tiga asymptote dibuku itu, yaitu horizontal, vertical, dan oblique. Yup sudah rada ingat sekarang. Jadi apa hubungannya dr House ama Asymptote?, apa maksudnya judul diatas?, Well, si asymptote ini mengingatkan bahwa saya bukan dokter (abis nonton serial seakan-akan berasa jadi anak kedokteran, efek yang sama ketika kebanyakan nonton sherlock holmes, jadi sok2an detektif), menyadarkan lagi bahwa saya adalah anak teknik yang masih kuliah, dan masih punya materi ujian (juga kewajiban lainnya cieeeh). jadi itu poinnya, inget dan sadar, yeha.

setelah inget dan sadar, sekarang adalah saatnya berdoa. semoga, materi asimtot ini bermanfaat buat kalau-kalau ada ujian sisken, mengingat materi-materi dari film serial tersebut ngga bakal dikeluarkan pas ujian.

mungkin setelah ujian selesai nanti saya bakal lanjut nonton lagi. karena masih banyak episode (banyak sekali), yang belum saya tonton dan bikin penasaran. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s