Sore ini

“Sore yang sempurna”, fikirku. Setelah melihat langit berwarna biru muda dan cahaya kekuningan terang yang  menimpa tembok rumah depan. Sudah 2 minggu ini aku berada di rumah, menikmati liburan panjang akhir semester yang hanya 2 kali setahun kudapatkan. Seminggu belakangan, dengan datangnya adik laki-lakiku yang juga libur semester, yang kulakukan setiap sore adalah menyiapkan bola basket dan melihat suasana langit. Pada musim hujan seperti ini, sedikit gerimis saja dapat membasahi seluruh lapangan basket di samping alun-alun tempat kami bermain, membuyarkan keinginan kami untuk saling bermain dan bertemu teman “desa kecil” kami.

Beruntung sore yang bagus ini tidak hujan sama sekali. Lapangan alun-alun yang tidak ada orangnya membuatku memilih maen di SMA N 1. Lama sekali aku liburan dan baru kali ini kembali ketempat ini. Lapangan basket di ujung kanan depan SMA tampak tidak berubah, cat dan ringnya masih sama. Dari jauh terlihat belasan anak sma yang tengah bermain. Lucu rasanya melihat adik-adik kelas yang sekarang bermain, mereka tampak begitu imut-imut. Mungkin inilah efek menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saat-saat dimana hal-hal yang kulihat sebagai hal yang biasa saja, kini tiba-tiba menjadi imut.tak hanya adik kelas 2 dan 3 sma yang sedang main basket yang tampak imut, tapi juga ponakan temen, dan anak-anak orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali yang kulihat.
Saat aku melihat mereka sebagai orang-orang yang imut-imut, aku dapat membayangkan, dari sisi mereka,  yang terjadi adalah sebaliknya. Aku, dengan sedikit kumis dan jenggot yang tumbuh dengan cepat tiap harinya, bisa jadi terlihat begitu tua bagi mereka. Aku bisa melihat mata mereka yang seakan memanggilku “mas-mas galau”. Yah, aku memang sudah cukup tua, sudah cukup mas-mas dan sangat kebetulan, sore itu sedang risau.

Setidaknya kegalauanku sore tadi tampak di mata salah satu teman seangkatanku yang ikut main. Pertanyaannya tadi sore, “Knapa fidh?, Kayanya galau banget?”, kujawab dengan diam. Yang jelas yang kurasakan tadi bukan kegalauan akan sore hari yang mungkin hujan, bukan pula tentang permainan basketku yang aneh, bukan pula tentang “shoot-shoot”ku yang terus melenceng. Entah, sampai sore ini aku juga masih bertanya-tanya apa yang sedang kurisaukan.

Sejenak setelah magrib datang dan pulang, kusentuh buku yang sebelum sore baru saja kubaca. Buku yang kutinggalkan itu tergeletak di sofa dalam posisi tertelungkup ke bawah, telah kubaca mungkin sampai tengah. Beberapa dari ceritanya dapat kupahami tadi. Sampai saat dimana sang penulis seakan sedang menceritakan cerita yang tidak ingin aku baca. Kubuka lagi buku itu, sejenak saja, dan aku tau kerisauanku. Mungkin dari semua halaman-halaman itu aku hanya perlu menyelesaikannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s